badruttamam
Minggu, 04 Agustus 2013
bumbu
Filosofi Bambu
Suatu hari dalam kondisi yang putus asa seseorang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, bahkan berhenti dari hubungannya dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasnya. Maka dia pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. “Tuhan, berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti” katanya.
Tuhan memberi jawaban yang mengejutkannya. “Lihat ke sekelilingmu”, kataNya. “Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada di hutan ini?” “Ya”, jawabnya.
Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, dan pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah, namun tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tapi Aku tidak berhenti merawatnya.”
“Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya.”
“Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke empat. ”
“Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Bandingkan dengan pakis, yang kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani.”
“Tahukah engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu, Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu”.
Tuhan berkata, “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.” “Saatmu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepadanya. “Engkau akan tumbuh sangat tinggi.”
“Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?” tanyanya. “Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?” Tuhan balik bertanya. “Setinggi yang mereka mampu?” dia bertanya.
“Ya.” jawabNya “Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai.”
Lalu dia pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah menyerah terhadapnya dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda.
Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan, hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman, kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini. Kadang kala kita sering gagal dalam melakukan segala sesuatu, ingatlah No one is perfect, jadi janganlah menyerah dan putus asa karena kegagalan yang kita alami ibarat kita sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat agar suatu hari dapat tumbuh setinggi-tingginya.
makna mudik
BARANGKALI fenomena khas dan unik dalam setiap lebaran Idul Fitri adalah mudik. Khas karena fenomena ini menjadi semacam ritual tahunan dan menjadi kebiasaan kolektif bangsa Indonesia yang melekat dalam setiap momen Idul Fitri. Setahun sekali, orang dari perantauan berduyun-duyun pulang ke kampung halaman pada hari-hari terakhir Ramadan.
Bahkan, Umar Kayam (2002) menyebutkan bahwa mudik telah terjadi berabad-abad lalu yang awalnya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Dahulu mudik menjadi kegiatan untuk membersihkan makam leluhur disertai upacara doa bersama untuk dewa-dewa dengan harapan agar para perantau diberi keselamatan dan keluarga yang ditinggalkan selalu dilindungi. Lambat laun akhirnya tradisi itu terkikis ketika Islam masuk ke tanah Jawa. Meski demikian, peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri.
Dalam konteks kekinian, mudik menjadi ajang melepas rindu yang merupakan nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif atau dalam istilah Emha Ainun Najib mudik sebagai upaya memenuhi tuntutan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab dengan asal-usulnya. Namun, karena tradisi mudik tahunan ini selalu identik dengan hadirnya Idul Fitri, maka maknanya tidak hanya sekadar peristiwa biologis yakni pelepasan rindu kampung halaman, melainkan juga memiliki makna spiritual yang begitu dalam.
Dimensi Spiritual Mudik
Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka bersua dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka, dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi spiritual untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.
Hal di atas semakna dengan apa yang dilontarkan Jalaluddin Rakhmat yang menganggap bahwa mudik lebaran sebagai sebuah perjalanan melintasi waktu. Di saat manusia merasa menjadi modern yang dibarengi dengan kehilangan rasa kemanusiaannya, maka tak ada lagi ruang kasih sayang dan emosi manusiawi yang ditebarkan bagi manusia lainnya sehingga yang muncul adalah perangai kasar yang mementingkan diri sendiri dan agresif.
Beliau mensinyalir bahwa kita sedang mengembangkan struktur sosial ‘ayam besar’ yang berusaha mematuk yang lemah. Kita telah menjadi materialistis yang siap mengorbankan perasaan kemanusiaan untuk keuntungan material. Semua orang seolah-olah menjadi sakit, termasuk para dokter dan pegawai rumah sakit. Untuk itu, diperlukan terapi yang sifatnya massal. Terapi yang diberikan haruslah menghilangkan semangat memiliki material ke semangat kekeluargaan yang spiritual.
Dalam hal ini, spiritualitas mudik setidaknya mengingatkan kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat asal. Karena melalui mudiklah, kita sebenarnya diingatkan kembali kepada awal kejadian kita, di mana untuk pertama kalinya kita melihat dunia. Mencenungi saat berada di kandungan ibu. Kandungan disebut pula sebagai rahim. Tuhan pun diseru dengan sebutan ya rahim. Wahai yang memberikan kasih sayang. Kasih sayang Tuhan mewujud pada kasih sayang (rahim) ibu.
Dengan demikian, mudik jangan dijadikan semacam ritual tahunan yang sangat konsumtif. Hal-hal seperti berbagi rezeki, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua jauh lebih bermakna. Dalam bahasa yang lebih luas, mudik seharusnya mendorong kita mewujudkan nilai-nilai transenden untuk kemudian sedikit demi sedikit meluruhkan belenggu hedonisme-materialisme yang tercipta di tengah peradaban modern. Semoga.
Rabu, 31 Juli 2013
keajaiban dunia
Seorang guru memberikan tugas kepada siswa-siswanya untuk menuliskan Tujuh Keajaiban Dunia.
Tepat sebelum kelas usai, siang itu semua siswa diminta untuk mengumpulkan tugas mereka masing-masing. Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu, mengumpulkan tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan hal itu.
Malamnya sang guru memeriksa tugas siswa-siswanya itu.
Sebagian besar siswa menulis demikian:
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Piramida
2. Taj Mahal
3. Tembok Besar Cina
4. Ka'bah
5. Kuil Angkor
6. Menara Eiffel
7. Kuil Parthenon
Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama. Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut, guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir. Tetapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam.
Lembar terakhir itu milik si gadis kecil pendiam. Isinya seperti ini:
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Bisa melihat
2. Bisa mendengar
3. Bisa menyentuh
4. Bisa disayangi
5. Bisa merasakan
6. Bisa tertawa, dan
7. Bisa mencintai
Setelah itu sang guru duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran tugas siswa-siswanya. �Kemudian menundukkan kepalanya dan berdoa. Mengucap syukur untuk gadis kecil pendiam di kelasnya, yang telah mengajarkannya sebuah pelajaran hebat.
"Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban. Keajaiban itu ada di sekeliling kita untuk kita miliki. Bersyukurlah atas semua yang kita sudah miliki hari ini."
ikhlas
Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, dari mana kita belajar IKHLAS
Jika semua yang kita impikan TERWUJUD, dari mana kita belajar SABAR
...See more Tetap sabar...
Tetap semangat...
Tetap tersenyum...
Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN
Religiopreneurship
Memenangi Persaingan dengan Religiopreneurship
Di antara sekian banyak pembaca yang budiman tentu pernah melewati deretan warung penjual makanan tradisional Jawa Barat--peuyeum, aneka manisan, kerupuk goreng pasir, ubi Cilembut, dsb--ketika berkendara melewati wilayah Cikampek.
Tampilan warung mereka maupun jenis produk yang dijajakan relatif sama, pengelolaannya sama, dan harga jualnya pun nyaris tidak berbeda antara satu dan yang lainnya.
Prinsip berbisnis yang mereka jalankan benar-benar mirip dengan para petani yang menggarap sawah tadah hujan, yakni sepenuhnya mengharapkan rezeki dari Tuhan Yang Mahakuasa.
Mereka tampak tidak merasa perlu untuk tampil beda atau harus unggul dari yang lainnya, sehingga dapat meraih penghasilan lebih besar dari warung sebelah-sebelahnya yang biasanya masih kerabat atau tetangga di kampung asal.
Bahkan, mereka memiliki perasaan senasib dan, misalnya apabila sebuah warung kebetulan kelarisan karena salah satu dagangannya habis, dia akan menganjurkan si pembeli berikutnya untuk ke warung sebelah yang berdasarkan prinsip manajemen pemasaran jelas-jelas merupakan pesaingnya.
Lalu, apakah tidak ada di antara salah satu pemilik warung yang ingin memenangi persaingan, mengingat usaha yang mereka jalankan tersebut, berdasarkan kriteria Prof Chan Kim, merupakan jenis bisnis Red Ocean?
Hal serupa juga terjadi di banyak tempat, termasuk di Kampoeng China, pusat perdagangan yang terdiri dari ratusan kios penjualan aneka produk kerajinan dan cendera mata khas Tiongkok yang berlokasi di dalam kompleks perumahan Kota Wisata Cibubur.
Di kedua kampung tematik tersebut, barang dagangan yang digelar kini relatif sama, padahal semula dirancang setiap kios memiliki kekhasan produk yang dijual.
Sama halnya dengan deretan warung di Cikampek tadi, di Kampoeng China tersebut hampir tidak terdapat diferensiasi produk, karena hampir semua kios juga berjualan payung, busana, aksesoris, maupun souvenir khas Tiongkok, sehingga semua pedagang hanya mengharapkan nasib baik berpihak kepada mereka.
Apakah model bisnis yang diterapkan pemilik warung ataupun kios di Kampoeng China itu dapat sustain atau berkesinambungan? Jawabannya cenderung iya, karena hingga hari ini mereka masih melanjutkan usaha.
Harapan mereka tentu saja adalah volume. Dalam kasus deretan warung tadi, jumlah mobil yang melintas di jalan depan tempat berjualan mereka selalu membludak, syukur-syukur macet, sehingga banyak yang tergoda untuk mampir dan berbelanja oleh-oleh khas Jabar tersebut.
Atau, dalam kasus Kampoeng China, jumlah pengunjung pusat rekreasi itu selalu meningkat dari waktu ke waktu, sehingga ada saja konsumen baru yang berminat membeli produk mereka, sehingga bisnis mereka tetap bergulir.
Ya, mereka ini--kedua jenis pengusaha tersebut--telah bertransformasi menjadi itu tadi, religiopreneur. Benar-benar memasrahkan nasib bisnisnya kepada Yang Di Atas agar berkenan mencukupkan volume kendaraan yang melintas maupun volume pengunjung.
Berbicara soal kepasrahan tersebut, tampaknya belum ada yang menandingi para pedagang di dua Tanah Haram di Arab Saudi, yakni Makkah dan Madinah. Mereka ini sudah mencapai tahapan religiopreneur tingkat tinggi, dengan tingkat kepasrahan yang mungkin tidak ada bandingannya di tempat lain.
Para pedagang tersebut menggelar dagangan mereka begitu saja, tanpa harus mengawasi dengan ketat seperti yang dilakukan kolega mereka di kota/negara lain. Meskipun berjualan dalam kios sekalipun, para pedagang itu tidak hirau sama sekali dengan kemungkinan adanya pengutil (mengambil barang tanpa membayar).
Ketika seruan untuk melaksanakan sholat (adzan) dikumandangkan, mereka pun hanya menutup kios dengan kain atau terpal apa adanya, lalu meninggalkan kiosnya begitu saja untuk menuju masjid guna menjalani ibadah sholat. Padahal kalau ada yang iseng ingin mengambil dagangan tadi bpun bisa mudah dilakukan tanpa ketahuan.
Mereka ini, para pedagang tersebut, meyakini semua pembeli pasti akan membayar barang yang diinginkan. Sering terlihat satu kios dengan produk dagangan begitu banyak hanya ditunggui oleh satu penjaga yang sekaligus merangkap sebagai kasir.
Kondisi seperti itu dimungkinkan karena sistem hukum yang diterapkan di kedua Tanah Haram tadi sangat ketat, yakni siapa yang terbukti mencuri akan dipotong tangannya, meskipun harus melalui pembuktian yang tidak gampang pula sebenarnya.
Hukum yang bersumber langsung dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan disampaikan melalui Muhammad Rasulullah, tersebut menjadi dasar bagi para pedagang untuk benar-benar berserah diri. Mereka menjadi religiopreneur secara total dan akhirnya menjadi sistem.
Mereka ini juga diuntungkan pula dengan volume pengunjung kedua kota suci -tersebut-untuk melaksanakan ibada haji dan umrah--yang mengalir hampir sepanjang tahun, dan cenderung terus bertumbuh.
Walhasil, para religiopreneur ini--di manapun mereka berada--merupakan genre atau kelompok tersendiri yang barangkali memperoleh keistimewan dari sikap pasrah sepasarah-pasrahnya. Mereka nyaris tidak peduli apakah itu Blue Ocean, Red Ocean, atau bahkan Black Ocean.
Mereka mungkin sudah merasa berbahagia dan bersyukur atas pencapaian seperti itu. Kalau telah mencapai tahapan seperti ini, lupakanlah persaingan.
Bagi kaum religiopreneur ini, ada semacam motto yang lazim dapegang: "Hidup sudah ada yang mengatur, begitu juga dengan besarnya rezeki yang akan diperoleh. Kalau mati pun nanti tidak akan membawa apa-apa."
Bagaimana halnya dengan bisnis Anda?
Selasa, 30 Juli 2013
mawar
Terangkai cinta untuk orang tua kami
Terangkai kasih untuk orang tulus menasihati kami
Terangkai sayang untuk cinta kita yang akan terus bersemi
Kenapa harus terucap kata
Kata yang cukup pedih kami rasa dihati
Meneteskan air mata tatkala engkau yang kami cinta
Mengajak kami menutup mata atas cinta yang mulai bersemi
Fatwa ini Al Hafidz ibnu Hajar:
"Para fuqoha telah bersepakat wajibnya menaati penguasa yang menang (dalam revolusi), Dan bahwa menaatinya lebih baik dari pada melawannya, Karena itu lebih menahan tertumpahnya darah dan fitnah (Fathul baari 13/7)
Begitu pedih ketika kau tujukan kepada kami
Apa salah kami?
Bukan maksud hati inginkan darah ini tertumpah
Bukan maksud hati anak-anak kehilangan jiwa sang ayah
Bukan maksud hati mengalirkan air mata ummu muslimah
Tapi kami hanya ingin menuntut hak kami
Hak kami yang ingin mengembalikan kejayaan islam di bumi ini
Kami tak paham
Kami tak paham maksud menaati penguasa yang menang
Kami tak paham maksud menaatinya lebih baik dari melawannya
Kami tak paham itu menahan tertumpahnya darah dan fitnah
Kami tak paham
Kenapa hal itu ditujukan pada kami?
Kami tak paham
Kenapa hal ini tak disampaikan jauh
Jauh ketika mereka berkumpul ingin menjatuhkan kami
Kenapa hal ini tak kau sampaikan
Pada mereka jiwa-jiwa yang tak ingin menaati kami sebagai pemenang
Pada mereka jiwa-jiwa yang tak ingin menaati kami dan memilih melawan
Pada mereka jiwa-jiwa yang sesungguhnya sangat nikmat ingin menumpahkan darah kami dan senang menyebarkan fitnah
Dan itu jauh
Jauh sebelum #sekuntummawar memimpin negri yang terdzalimi
Kami tak paham
SUngguh, kami tak paham
Benarkah Allah tak ridha dengan jalan ini?
"Ya.. Allah..
JalanMu lah yang terbaik..
Jalan yang dititi oleh para Nabi dan Rasul..
Jalan ilmu dan amal..
Jalan tauhid dan ittiba'.."
Kami tak paham
Benarkah ini bukan jalan yang terbaik
Benarkah ini bukan jalan yang dititi oleh para Nabi dan Rasul
Benarkah ini bukan jalan ilmu dan amal
Benarkah ini bukan jala tauhid dan ittiba
Benarkah ini bukan jalan MU, Ya Allah...
Sementara tak sedikit ulama dan syaikh
Yang lagi dalam ilmunya
Yang lagi luas pemahamannya
Terjun dan bergabung bersama mengembalikan mekarnya
Wahai cinta yang kami rindui nasihatnya
Bukan maksud hati melukaimu dengan ini
Bukan maksud hati membantahmu yang kami hormati
Tapi inilah jalan kami
Jalan yang dititi oleh para Nabi dan Rasul..
Jalan ilmu dan amal..
Jalan tauhid dan ittiba'..
Jalan yang terbaik yang dipilihkan Allah untuk kami'
Doakan kami
Doakan kami orang tua kami
Doakan kami mohon diampuni
Jika jalan tuan yang lebih baik dari jalan kami.
hati
Wahai Hati…
Bersabarlah dalam menanti,
Yakinlah janji_Nya adalah pasti..
Pada akhirnya kebahagiaanlah yg kelak kan diraih.
Wahai Jiwa…
Tenanglah dalam lara,
Percayalah bahwa janji_Nya adalah nyata.
Jangan pernah ragu dengan kehendak_Nya
DIA lebih tau mana yang terbaik untuk para hamba2_Nya.
Wahai Raga…
Tetaplah istiqomah dalam asa,
Cinta yang suci sedang menguji keimanan kita..
Seberapa sabar kita dalam menunggu…
Seberapa kuat kita saat tertatih…
dan seberapa tegar kita disaat rapuh…
Segala uji dan coba_Nya tak pernah ada yang sia2,Dibalik itu semua pasti ada hikmah dan barokahnya, bersabarlah untuk suatu Keindahan..
Kebahagiaan itu pasti kan datang untukmu,
Disaat yang Indah di waktu yang
tepat…
Langganan:
Postingan (Atom)