Kawanku…
Bukankah kita masih sering terpengaruh oleh katakutan yang tidak jelas arahnya. Ketakutan yang tertanam sejak kita lahir, dari orang tua, dogma, aturan agama, etika, moral dan sebagainya? Ketakutan yang kita sendiri tidak tahu itu bersal dari mana.
Kita masih takut untuk menjadi diri kita sendiri. Kita masih takut untuk mengatakan apa yang ada dalam hati dan sanubari kita sendiri. Kita masih takut untuk mengatakan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Kita masih takut mengekspresikan diri kita yang sesungguhnya. Masih takut untik menjadi diri sendiri yang memang unik dan berbeda dari yang lain.
Kita takut akan apa yang akan dikatakan teman, tetangga, keluarga dan orang-orang yang kita cintai dan mengormati kita. Kita takut akan pendapat dan pendangan mereka terhadap diik kita. Kita takut akan apa kata mereka tentang kita. Kita takut mereka akan menolak akan menyanggah pendapat dan sikap kita. Takut akan kehilangan muka, nama baik, kehormatan, gengsi, prestise dan lain sebagainya. Kita takut menjadi diri sendiri karena alasan kehormatan gengsi nama baik dan sebagainya.
Kita takut orang lain tidak akan menghormati kita lagi. Takut orang lain tidak akan mengaggap kita lagi.
Kita berada dalam ketakutan dan kebingungan. Antara keinginan menjadi diri sendiri yang sudah lama kita idam-idamkan dan keinginan untuk diterima oleh orang lain, untuk dicintai dan dihormati. Kita bimbang. Kita ingin dicintai, diterima, dihormati dan dihargai, namun kita dada kita sudah penuh sesak karena pandangan masyarakat tidak memungkinkan kita mengekspresikan diri kita sendiri.
Itulah karakter masyarakat, mereka ingin kita sama dengan mereka. Mereka ingin kita sependapat dengan mereka. Mereka ingin kita sama dalam segala hal dengan mereka. Padahal setiap orang unik dan tidak akan pernah sama dengan siapapun. Setiap orang mesti menjadi diri mereka masing-masing. Dan in jelas sangat bertentangan dengan pola dan sikap masyarakat.
Ini bukanlah berbeda untuk menjadi aneh guna menarik perhatian orang lain. Ini bukanlah berbeda karena kita ingin mendapatkan perhatian orang lain, karena kita kurang perhatian. Ini adalah berani berbeda dan menjadi unik karena kita tahu diri kita yang sebenarnya. Karena kita tahu apa yang kita inginkan dalam hidup ini Berbeda yang penuh kesadaran dan bertangung jawab. Berbeda yang tidak merusak dan mencelakakan orang lain.
Kita mesti melepaskan diri dari segala macam ketakutan semacam ini. Kita mesti melepaskan diri secepat mungkin. Kita mesti berubah.
Takut tidak akan membawa kita kemana-mana. Takut tidak akan membawa kebaikan bagi kita bahkan bagi siapapun. Takut akan memenjara kreatifitas dan perkembangan pribadi kita untuk tetap berada di bawah kendali siapapun yang menakut-nakuti kita.
Bahkan takut kepada Tuhanpun tidak perlu. Kenapa kita harus takut kepada Tuhan kenapa kita harus takut? Bukankah kita bisa mencintai dan menyayangi Tuhan. Bukankah kita bisa menerima Tuhan tanpa harus takut?
Takut berdosa? Tidak melakukan kejahatan karena takut berdosa.? Kalau begitu berarti kita bukan orang baik. Orang baik adalah orang yang tidak melakukan kejahatan karena ia sadar bahwa kejahatan memang tidak berguna dan tidak perlu dilakukan ,bukan karena takut berdosa.
Sama halnya melakukan sholat, puasa, zakat, dan ibadah apapun. Kalau kita melakukannya karena takut berdosa dan takut masuk neraka berarti kita masih belum ikhlas. Kita masaih belum tulus, belum benar-benar menjadi orang baik. Karena perbuatan dan ibadah yang kita lakukan masih didorong oleh rasa takut, bukan kesadaran untuk melakukan hal itu.
Bebaskan diri kita dari rasa takut, maka kita akan menjadi orang yang bebas, dan benar-benar menikmati hidup, kita akan menjadi orang yang baru. Kita akan benar-benar menjadi pribadi yang lain dan berbeda. Pribadi yang belum pernah kita rasakan.
Mulai saat itulah akan tumbuh kesadaran untuk, melakukan kebaikan. Karena kita sadar bahwa kebaikan adalah diri kita yang sejati. Bahwa kebaikan adalah kodrat, fitrah dan jati diri kita yang sesungguhnya. Mulai saat itulah kita akan mulai beribadah dan berbuat baik dengan tulus, dengan senang hati tanpa paksaan. Kita akan melakukan segala kebaikan dengan senang hati dan penuh kegembiraan.
Terima kasih kawan. Terima kasih atas semuanya. Karena aku telah berbagi dengan teman-teman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar