Wanita kamu adalah perhiasan. Dunia ini menjadi indah kerana adanya kamu yang bernama wanita. Tanpamu dunia pasti diselubungi sugul. Para lelaki yang mendiami dunia ini pasti akan ketandusan kasih. Wahai wanita, kamu ibarat rama-rama yang mengindahkan lagi alam. Kamu telah menyempurnakan keindahan bunga dengan adanya rama-rama.
Namun kamu yang bernama wanita, mengapa sanggup merosakkan diri di tengah-tengah kebuasan kaum lelaki. Memang keinginan berteman adalah fitrah manusia, tetapi jangan sampai merosakkan diri dan maruah yang lama telah dijaga rapi. Tamsilkan dirimu sebagai rama-rama. Keindahan mu mudah terlerai seperti mana mudahnya rama-rama terlerai dari keindahannya apabila ia disentuh. Tatkala rama-rama telah hilang keindahan, tiada siapa yang akan memperdulikannya.
Memang kamu akan berasa bangga apabila digilai ramai kaum lelaki. Tetapi ingatlah wahai wanita, sayapmu yang indah itu pasti akan luntur sedikit demi sedikit, melekat di jari lelaki tatkala dia menyentuhmu, sebagaimana kamu menyentuh rama-rama, warnanya akan berpindah ke jari kamu. Adakah kamu tidak merasa rugi…? Adakah kamu tidak rasa kehilangan keaslian..?
Jika kamu adalah wanita sejati, kamu patut berasa rugi kerana ketahuilah, lelaki akan berasa amat berbangga apabila dapat meletakkan tangan mereka ke atas tubuhmu walaupun sekadar memegang tangan, sedangkan mereka tahu mereka tidak berhak berbuat sedemikian. Bezanya antara lelaki dan wanita adalah lelaki tidak akan kehilangan apa-apa biar pun sejuta wanita yang mereka sentuh tetapi wanita akan rugi serugi-ruginya apabila membenarkan mereka menyentuhmu, kerana kulitmu yang cantik dan halus telah dicemari dengan tangan-tangan yang tidak berhak ke atasmu.
Hanya sekali sentuh, corak rama-rama akan hilang, kalau dua kali sentuh coraknya akan semakin pudar, dan tidak mustahil apabila kerap kali disentuh ianya akan koyak dan jatuhlah rama-rama terkulai tanpa dipedulikan. Begitulah perihal sebagai wanita. Apa untungnya digilai dan diminati, kemudian terkorban benda yang sangat berharga pada diri. Wahai wanita, kasihanilah dirimu, jadikan dirimu benda yang paling berharga. Berharga dari permata, mutiara dan segala-galanya.
Nilai dirimu terletak pada harga diri yang hanya sanggup dibayar dengan harga kejujuran seorang lelaki. Apalah ertinya digilai kalau yang menggilai hanyalah lelaki yang tidak tahu harga diri sendiri. Kamu tidak lagi berharga biar pun tinggi di mata lelaki yang melihat dirimu hanya sebagai ‘alat’. Tapi kamu ibarat mutiara di puncak bukit di mata seorang lelaki yang jujur tanpa meminta apa-apa balasan ataupun sedikit belaian. Memang sukar mendapatkan lelaki yang jenis ini tetapi biar terlewat pilh daripada tersalah pilih
Biar hidup sendiri dan selesa membina pahala daripada berdua tetapi pencetus dosa ke neraka. Biar hidup sendiri dan masih kekal serinya daripada dikelilingi lelaki tetapi telah hilang maruah diri. Biar lambat mendapat teman tetapi tinggi peribadi daripada cepat mendapat teman tetapi lama ditinggalkan pergi.
Wahai wanita, hargailah dirimu, kerana dirimu tersangatlah berharga, kamu yang menentukannya. Wallahu’alam.
Posted in Uncategorized | No Comments »
::Hal² yg makruh & m’batalkan solat::
Oktober 5th, 2007 by lin-1002
Hal-hal
Yang Dimakruhkan Dalam Shalat
1.
Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
"Apa
yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan
mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendaklah
mereka
berhenti dari hal itu atau (kalau tidak),
niscaya akan tersambar penglihatan mereka."
( HR. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang
sama).
2.
Meletakkan tangan di pinggang. Hal ini berdasarkan larangan Rasulullah SAW meletakkan tangan di pinggang ketika
shalat. (Muttafaq alaih).
3.
Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan
perkataan Aisyah ra. Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang seseorang yang
menoleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab:
"Itu
adalah pencurian yang dilakukan syaitan dari shalat seorang hamba."
(HR. Al-Bukhari dan Abu Daud, lafazh ini dari riwayatnya).
4.
Melakukan pekerjaan yang sia-sia, serta segala yang membuat orang lalai dalam shalatnya atau menghilangkan
kekhusyu’an shalatnya. Hal ini berdasarkan sabda
Rasulullah SAW.
"Hendklah
kamu tenang dalam melaksanakan shalat." (HR. Muslim).
5.
Menaikkan rambut yang terurai atau melipatkan lengan baju yang terulur. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
"Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak boleh melipat
baju atau menaikkan rambut (yang terulur)." (Muttafaq alaih).
6.
Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah
lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW:
"Dari
Mu’aiqib, ia berkata, ‘ Rasulullah SAW menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya
menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau
bersabda, ‘Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja."
(HR. Muslim).
"Dari
Mu’aiqib pula, bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang seseorang yang meratakan
tanah pada tempat sujudnya (dengan telapak tangan), beliau bersabda, ‘Kalau kamu
melakukannya, maka hendaklah sekali saja." (Muttafaq alaih).
7.
Mengulurkan pakaian sampai mengenai lantai dan menutup mulut (tanpa alasan).
"Dari
Abu Hurairah ra, ia berkata, ‘Rasulullah SAW melarang mengulurkan pakaian sampai mengenai lantai dalam
shalat dan menutup mulut." (HR. Abu Daud,
At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan).
Adapun
jika menutup mulut karena hal seperti menguap ataupun yang lainnya maka hal tersebut dibolehkan
sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.
8.
Shalat di hadapan makanan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
"Tidak
sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan." (HR.
Muslim).
9.
Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar, dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
"Tidak
sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat
seseorang yang Bmenahan buang air kecil dan besar." (HR. Muslim).
10.
Shalat ketika sudah terlalu mengantuk. Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila
salah seorang di antara kamu ada yang mengantuk dalam keadaan shalat, maka
hendaklah ia tidur sampai
hilang rasa kantuknya. Maka sesungguhnya apabila salah
seorang di antara kamu ada yang shalat dalam keadaan
mengantuk, dia tidak akan
tahu apa yang ia lakukan, barangkali ia bermaksud minta ampun kepada Allah ternyata
dia malah mencerca dirinya sendiri." (Muttafaq alaih).
Hal-hal
Yang Membatalkan Shalat
Shalat
seseorang akan batal apabila ia melakukan salah satu di antara hal-hal berikut
ini:
1.
Makan dan minum dengan sengaja. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
"Sesungguhnya
di dalam shalat itu ada kesibukan tertentu." (Muttafaq alaih).
Maksudnya orang yang shalat seharusnya hanya berkonsentrasi pada shalatnya saja
dan mengesampingkan perbuatan yang lain. (pen.)
2.
Berbicara dengan sengaja, bukan untuk kepentingan pelaksanaan shalat
"Dari
Zaid bin Arqam, ia berkata, ‘Dahulu kami berbicara di waktu shalat, salah
seorang dari kami berbicara kepada temannya yang berada di sampingnya sampai
turun ayat: ‘Dan hendaklah kamu berdiri karena Allah (dalam shalatmu) dengan
khusyu’ (Al-Baqarah : 238), maka kami pun diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara." (Muttafaq alaih).
Dan
juga sabda Rasulullah SAW
"Sesungguhnya shalat ini tidak pantas ada di dalamnya percakapan manusia
sedikit pun." (HR. Muslim).
Adapun
pembicaraan yang maksudnya untuk membetulkan pelaksanaan shalat, maka hal itu diperbolehkan seperti
membetulkan bacaan (Al-Qur’an) imam, atau
imam setelah memberi salam kemudian bertanya apakah shalatnya
sudah sempurna, apabila ada yang
menjawab belum, maka dia harus menyempurnakannya. Hal ini pernah
terjadi
terhadap Rasulullah SAW, kemudian Dzul
Yadain bertanya kepada beliau, ’Apakah Anda lupa ataukah
sengaja meng-qashar shalat, wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW
menjawab, ’Aku tidak lupa dan aku pun tidak bermaksud
meng-qashar shalat.’ Dzul
Yadain berkata, ’Kalau begitu Anda telah lupa wahai Rasulullah. ‘Beliau
bersabda, ‘Apakah yang dikatakan Dzul Yadain itu betul? Para sahabat menjawab,
‘Benar. ‘ Maka beliau pun menambah shalatnya dua rakaat lagi, kemudian melakukan
sujud sahwi dua kali. (Muttafaq alaih).
3.
Meninggalkan salah satu rukun shalat atau syarat shalat yang telah disebutkan di
muka, apabila hal itu tidak ia ganti/sempurnakan di tengah pelaksanaan shalat
atau sesudah selesai shalat beberapa saat. Hal ini berdasarkan hadits
Rasulullah
SAW terhadap orang yang shalatnya tidak tepat.
"Kembalilah
kamu melaksanakan shalat, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat."
(Muttafaq alaih).
Lantaran
orang itu telah meninggalkan tuma’ninah dan i’tidal. Padahal kedua hal itu
termasuk rukun.
4.
Banyak melakukan gerakan, karena hal itu bertentangan dengan pelaksanaan ibadah
dan membuat hati dan anggota tubuh sibuk dengan urusan selain ibadah. Adapun
gerakan yang sekadarnya saja, seperti memberi isyarat untuk
menjawab salam,
membetulkan pakaian, menggaruk badan dengan tangan, dan yang semisalnya, maka hal itu
tidaklah membatalkan shalat.
5.
Tertawa sampai terbahak-bahak. Para ulama sepakat mengenai batalnya shalat yang disebabkan tertawa seperti itu.
Adapun tersenyum, maka kebanyakan ulama
menganggap bahwa hal itu tidaklah merusak shalat seseorang.
6.
Tidak berurutan dalam pelaksanaan shalat, seperti mengerjakan shalat Isya sebelum mengerjakan shalat Maghrib,
maka shalat Isay itu batal sehingga dia
shalat Maghrib dulu, karena berurutan dalam melaksanakan shalat-shalat itu
adalah wajib, dan begitulah perintah pelaksanaan shalat itu.
7.
Kelupaan yang fatal, seperti menambah shalat menjadi dua kali lipat, umpamanya
shalat Isya’ delapan rakaat, kerana perbuatan tersebut merupakan indikasi yang
jelas, bahawa ia tidak khusyu’ yang mana hal ini merupakan ruhnya shalat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar