Cinta itu benih sebibit, timang ku timang di ladang hati
Antara rasa ingin dan deru egoistik, tiga hari berganti
Berayun-ayun dalam buaian angin, menapak lebih tinggi
Hasil yang akan ku dapat, ku nanti…
Pun aku…
Lekat dalam harap, mengundi dadu
Mengira-ngira pada senyum yang kau berikan
Bagai kelopak teratai mekar di tanganku
Pun aku…
Padamu meradang,
Cinta…..
Aku milikmu, Ayah.
Kiranya inilah jawaban dari, “ada apa dengan dadaku yang berkecamuk hingga menyesatkan benak?” Hal apa yang membuatku ‘buntu’ menulis di tiga malam dalam hidupku. Ayah, ternyata salah satu sumber kekuatanku dan aku menyesali keakuan diriku kemarin. Tuhan, ampuni aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar