Jumat, 10 Oktober 2008

tawaduklah

jika engkau mahu menyebut
cacat cela orang lain maka
kenang terlebih dulu cacat cela dirimu sendiri".
Setiap manusia ada titik kelemahan dan
cacat cela tersendiri dan
untuk menjadi seorang Muslim yang adil,
tidak seharusnya ia membilang cacat cela dan
kelemahan orang lain dengan melupakan
cacat cela dirinya sendiri.

Apabila berbalah,
manusia selalu condong kepada
memperbesarkan cacat cela
dan kesalahan orang lain
untuk meletakkan dirinya sebagai seorang
bersih, baik, tidak salah dan jujur.

Begitu juga dengan kebiasaan mengumpat
dan mengeji,
manusia selalu lupa kepada cacat cela
atau kelemahan diri sendiri.

Rasulullah memberi satu garis panduan yang adil
apabila kita bernafsu untuk mengkritik,
mengumpat dan menyalahkan orang lain,maka
hendaklah lebih dulu kita mengambil cermin
melihat cacat cela muka
dan diri sendiri.

Menurut pakar psikologi,
kecenderungan mengumpat atau
menyebut cacat cela orang lain
didorong oleh perasaan
dendam kesumat, perasaan benci
dan hasad dengki
yang terpendam sekian lama
dalam jiwa seseorang.

Umat Islam tidak dilarang
memberi kritikan membina atau
pandangan jujur terhadap mana-mana
tindakan yang dianggap
menyinggung kepentingan umum,
melanggar prinsip agama dan
perkara yang benar.

Malah,
mereka digalakkan memperbetul kesilapan
tetapi perlu dilakukan dengan
cara yang baik agar
kritikan tidak menyentuh maruah

Tidak ada komentar: