Kamis, 25 Juli 2013

takdir

Apakah perbuatan-perbuatan kita benar-benar milik kita? Ataukah sekadar suatu alat di tangan Allah? “Takdir artinya bahwa Allah memiliki pengetahuan sebelumnya atas perbuatan manusia, namun Dia tidak memaksa siapapun untuk bertindak dalam cara tertentu.” Kutipan diatas memberikan bukti atas fakta bahwa, manusia mempunyai pilihan entah menaati peraturan-peraturan Allah, ataukah durhaka. Untuk menjabarkannya, disini harus menjelaskan bahawa kondisi atau perbuatan manusia ada dua jenis; 1) Perbuatan-perbuatan yang tentangnya ia bisa dinasehati, diperintah, dipuji atau dicela. Perbuatan-perbuatan tersebut dalam kekuasaannya dan tergantung pada kehendaknya; 2) Kondisi-kondisi yang tentangnya ia tidak bisa dipuji ataupun dicela, seperti kehidupan, lain-lain. Kondisi-kondisi tersebut berada diluar wilayah kehendak atau kekuasaannya. Umpamanya, kita menasehati seorang pasien untuk berkonsultasi kedokter ini atau itu dan tetap berada di bawah perawatannya. Namun kita tidak dapat menasehatinya menjadi sembuh. Mengapa perbedaan ini? Karena mendapatkan perawatan di bawah kekuasaannya, namun mendapatkan kesembuhan bukanlah kekuasaannya. Ini merupakan sesuatu yang datang dari Allah. Kebebasan bertindak merupakan karunia dari Allah. Dia telah memberi kita kekuatan, kebebasan, kekuasaan, anggota tubuh, hikmah, dan segala sesuatu yang denganya kita melakukan pekerjaan. Oleh karena itu, kita tidak terlepas dari Allah, karena kebebasan kita tidak hanya diberikan melainkan disiapkan oleh-Nya. Akan tetapi seluruh perbuatan kita tidak dipaksakan oleh Allah, karena Dia, setelah Dia menunjukan kepada kita jalan yang benar dan jalan yang salah, dan setelah dorongannya kepada kita untuk berbuat benar, telah membiarkan kita kepada karsa bebas kita sendiri. Jika kita tersesat, itu merupakan pilihan kita sendiri. Syekh Shaduq menyatakan : Keyakinan kita dalam hal ini adalah apa yang diajarkan oleh Imam Ja’far Shadiq, “Tidak ada paksaan (oleh Allah) dan tidak ada pelimpahan kekuasaan (dari Allah). Namun satu kondisi di antara dua kondisi.” Kemudian Imam bertanya,”Apakah itu?” Beliau menjawab,”Anggaplah engakau melihat seseorang berniat untuk melakukan sebuah dosa, dan engkau melarangnya. Akan tetapi ia tidak mendengarkanmu. Lalu engkau meninggalkannya dan ia melakukan dosa tersebut. Kini ketika ia tidak memperhatikanmu dan engkau meninggalkannya, tak seorangpun bisa mengatakannya berbuat dosa.” Dalam madah lain, kita percaya bahwa Allah telah memberikan kita kekuatan dan kehendak , lalu membiarkan kita bebas melakukan apa yang kita suka. Di saat yang sama, Dia telah mengajari kita melalui para nabi, apa yang benar dan apa yang salah. Sekarang, karena Dia Maha Berilmu, Dia mengetahui apakah yang akan menjadi perbuatan-perbuatan kita di masa-masa yang berbeda dari kehidupan kita. Namun pengetahuan ini tidak menjadikan Dia bertanggung jawab atas tindakan-tindakan kita lebih dari seorang meteorlog yang bisa bertanggung jawab atas topan dan badai, jika ramalannya terbukti benar. Ramalan yang benar adalah hasilnya, bukan sebab dari peristiwa yang menjelang.

Tidak ada komentar: